Contoh Resensi Buku Disertai Penjelasan Lengkap

Pengertian Resensi

Mayoritas dari kamu pasti sudah ngga asing dengan resensi meskipun tipis-tipis. Hakikat resensi sendiri  merupakan karangan yang berisi ulasan terhadap sebuah karya baik itu berupa buku, film, dan hasil karya yang diciptakan oleh seseorang atau kelompok.

secara etimologi, resensi berakar dari bahasa latin, dari kata kerja revidere atau recensere yang memilik arti melihat kembali, menimbang atau menilai. Dalam bahasa Inggris akrab dengan istilah review.

contoh resensi
pixabay.com

 

Menurut KBBI, resensi diartikan sebagai pertimbangan atau pembicaraan tentang buku dan sebagainya. Secara garis besar resensi diartikan sebagai kegiatan untuk mengulas atau menilai sebuah hasil karya baik itu berupa buku maupun novel dengan cara memaparkan data-data, sinopsis, dan kritikan terhadap karya tersebut.

Resensi menurut Panuti Sudjiman (1984) adalah hasil pembahasan dan penilaian yang pendek tentang suatu karya tulis. Konteks ini memberi arti penilaian, mengungkap secara sekilas, membahas, atau mengkritik buku.

pixabay.com

WJS. Poerwadarminta (2003) menyatakan bahwa resensi secara bahasa sebagai pertimbangan atau perbincangan tentang sebuah buku yang menilai kelebihan atau kekurangan buku tersebut, kemenarikan tema dan isi buku, kritikan, dan memberi motivasi pada penikmat tentang perlu tidaknya buku tersebut dibaca dan dimiliki atau dibeli. Perbincangan buku tersebut dimuat di surat kabar atau majalah.

Saryono (1997) menjelaskan Pengertian Resensi sebagai sebuah tulisan berupa esai dan bukan merupakan bagian suatu ulasan yang lebih besar mengenai sebuah buku. Isinya adalah laporan, ulasan, dan pertimbangan baik-buruknya, kuat-lemahnya, bermanfaat-tidaknya , benar-salahnya, argumentatif- tidaknya buku tersebut. Tulisan tersebut dilengkapi dengan ilustrasi buku yang diresensi, baik berupa foto buku atau foto copy sampul buku.

pixabay.com

Dapat disimpulkan jika resensi adalah sebuah ulasan sebuah karya orang lain atau kelompok baik itu berupa film, novel, majalah, maupun buku ilmiah.

Dpalam tindakannya biasanya meresensi buku adalah untuk memberikan sebuah ulasan, penilaian, kritik, serta sinopsis tentang isi yang terkandung pada buku sebagai masukan untuk penulis agar semakin bersemangat dalam berkarya dan karyanya lebih baik dari sebelumnya.

Syarat Membuat Resensi Buku

pixabay.com

Selama proses kreatif  meresensi buku, harus ada beberapa syarat yang diperhatikan dimana dengan syarat ini menjadi semacam standarisasi  sebagai manifestasi bentuk resensi buku. Diantaranya adalah :

Data buku, baik itu nama pengarang, penerbit, tahun pencetakan, serta ciri lainnya yang ada pada buku tersebut.

Pendahuluan, biasanya berisi perbandingan buku tersebut dengan karya sebelumnya (jika ada), biografi pengarang, atau hal lain yang masih ada sangkut pautnya dengan tema ataupun isi buku.

Terdapat bahasan singkat yang lahir dari buku tersebut.

Harus memiliki penjelasan kepada siapa manfaat itu bisa ditujukan.

Dengan memenuhi beberapa syarat tersebut, barulah sebuah karya tersebut dinamakan resensi.

Tujuan Penulisan Resensi

pixabay.com

penulisan resensi memiliki beberapa tujuan, diantaranya yaitu :

Resensi buku dilakukan untuk memberikan sebuah pngertian dan juga informasi kepada calon pembaca mengenai sebuah karya berupa buku sebelum dimiliki atau supaya para pembaca dapat mendapat sudut pandang baru tentang buku yang sedang dibaca.

Dengan adanya resensi buku, akan membuka ruang diskusi antara pembaca dan penulis tentang berbagai macam hal yang diangkat pada sebuah karya tersebut. Baik itu novel, buku film, sampai lukisan.

Dengan adanya resensi buku, tujuannya adalah untuk memberikan pandangan terhadap pembaca apakah karya tersebut memang layak diterbitkan dan dibaca oleh para pembaca atau belum.

Manfaat Resensi

pixabay.com

Banyak manfaat yang bisa kita ambil dari aktivitas meresensi buku, baik itu bagi para pembaca ataupun juga para penulis, mari kita simak pembahasannya.

  1. Bahan Pertimbangan

Resensi bisa menjadi bahan pertimbangan sebagai langkah menjadikan karya yang diresensi tersebut sebagai gambaran secara umum terhadap pembaca tentang suatu karya. Hal ini secara tidak langsung akan mempengaruhi para calon pembaca sebelum memulai membaca sebuah buku.

  1. Memperluas Jaringan

Buku jika diresensi menjadi wadah bagi para penulis newbie  (pemula) untuk mengasah skill menulis sekaligus mendapat honorarium jika dikirim ke media seperti koran maupun majalah. Kesempatan masih terbuka lebar, silahkan dimulai dari sekarang.

  1. Media Promosi

Para penulis dan penerbit buku juga kecipratan berkahnya. Manfaat yang bisa dirasakan oleh penulis dan penerbit untuk sebuah karya yang telah diresensi  dan dimuat di media akan menjadi media promosi agar calon pembaca bisa mengapresiasi karya tersebut.

Dengan semakin seringnya kamu membaca, menulis, dan meresensi karya orang lain, kamu juga akan termotivasi untuk berkarya secara mandiri. Dan meresensi karya orang lain juga akan memperkaya wawasan dan perbendaharaan kata yang kamu miliki.

Demikian beberapa keuntungan yang bisa kita ambil dalam proses kreatidf  meresensi buku. Selain itu, baik dari pihak penerbit ataupun pihak penulis yang kamu resensi bukunya juga akan mendapatkan manfaat dan timbal balik yang positif. Masih berniat mencoba?

Jenis-jenis Resensi

pixabay.com

Dalam resensi buku, juga dibagi menjadi tiga jenis resensi utama dimana hal ini juga menjadikan keunikan bagi penulis resensi dalam menulis sebuah karya. Beragam jenis resensi buku diantaranya adalah :

  1. Resensi Deskriptif

Pada jenis resensi ini akan dibahas secara detail perihal setiap bagian yang ada pada sebuah karya.

  1. Resensi Informatif

Resensi Informatif ini lebih keada penyampaian informasi tentang apa itu  isi dari sebuah karya buku secara singkat atas keseluruhan yang terkait di dalam buku tersebut.

  1. Resensi Kritis

Terakhir adalah jenis resensi kritis resensi jenis akan diulas lebih detail tentang sebuah karya atau buku dengan metodologi ilmu pengetahuan tertentu sehingga hasil penilaian yang didapatkan biasanya akan lebih objektif terhadap  isi buku tersebut.

Demikianlah berbagai jenis resensi buku yang biasanya lahir dari para peresensi. Keuletan dan kesabaran akan berpengaruh terhadap cara pandang peresensi menghasilkan karya yang proporsional.

Struktur Penulisan Resensi

pixabay.com

Selama proses kreatif menulis resensi juga harus mengandung beberapa unsur atau struktur penulisan yang wajib dilengkapi. Karena dengan beberapa hal tersebut, resensi yang disampaikan menjadi lebih lugas dan transparan. Beberapa unsur resensi tersebut diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Judul Resensi

Buatlah judul yang  memancing rasa ingin tahu pembaca untuk menelusuri lebih dalam. Aktivitas ini akan membuat pembaca rela duduk manis menikmati sajian tulisan yang kamu buat.

  1. Identitas atau Data Penyusunan Buku

Identitas atau data penyusunan dari sebuah buku sangat diperlukan agar informasi penting khusus yang diperlukan pembaca lebih mudah diketahui. Data ini berisi tentang beberapa hal seperti :

Judul ,

Penulis,

Penerbit,

Tahun Terbit disertai Nomor Cetakannya, dan

Ketebalan  buku

  1. Isi

Isi buku harus dicantumkan dalam proses meresensi buku. Hal ini sebagai salah satu pokok informasi yang akan dicari pembaca tentang sebuah buku. Contohnya berupa sinopsis atau ulasan singkat dari sebuah buku, kerangka dan penggunaan bahasa, serta keunggulan dan kelemahan yang terdapat di sebuah buku tersebut.

  1. Penutup Resensi

Bagian paling akhir dari resensi buku adalah bagian penutup. Disini akan dibahas beragam bahasan tentang tujuan buku tersebut ditulis dan kepada siapa seharusnya buku tersebut disebarluaskan.

Pembahasan di atas merupakan unsur resensi yang perlu dipenuhi untuk menjadikan resensi menjadi lebih jelas, dimengerti, dan menilai buku secara lebih objektif sehingga sebuah karya menjadi lebih menarik untuk dikonsumsi oleh para penikmatnya.

Langkah-Langkah Menulis Resensi

pixabay.com

Barangkali beberapa penjelasan di atas mungkin tidak terllau susah untuk dipahami tentang beberapa pengertian lebih lengkap dalam penulisan resensi buku. Sekarang, coba kita lanjutkan pembahasan tentang bagaimana cara menyusun resensi.

Ada beberapa tahapan yang bisa kamu lakukan untuk menulis sebuah resensi. Selengkapnya sebagai berikut :

  1. Tentukan Buku

Sebagai langkah awal yang harus kamu lakukan tentunya kamu  tentukan buku apa yang akan kamu resensi. Biasanya buku yang diresensi adalah buku yang baru terbit dan belum diresensi orang lain.

  1. Selesaikan Bacaan Sebelum Meresensi

Setelah kamu temukan bukunya, kemudian baca buku tersebut sampai tuntas. Hal ini sebagai langkah eksploratif untuk mendapatkan saripati dari sebuah buku. Disamping itu, langkah ini dalam rangka menentukan gagasan yang nantinya bisa kamu tuangkan dalam bentuk tulisan.

  1. Catat Identitas atau Anatomi Buku

Catat semua anatomi yang terkait dengan buku yang akan kamu resensi secara komprehensif. Anatomi ini terkait dengan judul buku, jenis buku, nama pengarang, nama penerbit, tahun terbit dan tahun cetak, jumlah halaman pada buku.

  1. Mulai Membuat Resensi Buku

Coba kamu cek ulang informasi penting yang harus kamu penuhi sebelum menulis resensi. Sekarang kita akan mulai menyusun kedalam sebuah bentuk resensi buku. Berikut contoh resensi.

RESENSI BUKU

  PANORAMA KEBAJIKAN DI TENGAH MASYARAKAT MAJEMUK

Judul Buku                  :  Ajaran Kiai Gontor 72 Prinsip Hidup KH. Imam Zarkasyi

Pengarang                   :  Muhammad Ridlo Zarkasyi

Penerbit                       : Rene Books

Cetakan                       : 1- September 2016

ISBN                           : 978-602-1201-29-9

Tebal Buku                  : 14 x 21 cm, 220 Halaman

Peresensi                      : Arsya Malaka Bramastyo

 

Sebaik-baik merdeka adalah kemerdekaan atas diri sendiri. Selagi hayat masih bersarang dalam dada, jangan berpikir rezeki akan tertukar! Coba kita perhatikan, sebelum banyak motivator masa kini bicara “jangan jadi pegawai”, di sudut salah satu kota di Jawa Timur yang tekenal dengan Reognya.

Tersebut seorang pejuang pendidikan bernama Imam Zarkasyi. Beliau merupakan salah satu pendiri dari  Pondok Modern Darussalam di Ponorogo. Pesantren yang lebih dikenal dengan nama Pondok Gontor itu bukan hanya melahirkan sejumlah tokoh nasional maupun Internasional.

Pak Zar, panggilan akrab KH. Imam Zarkasyi sudah mewanti-wanti soal mandiri dalam berwirausaha. Ia, misalnya, menyatakan bahwa cita-cita sebatas menjadi pegawai itu sama saja memupuk penyakit.

Sebab resiko paling berbahaya dengan menjadi pegawai adalah sikap mentalnya: merasa aman secara finansial, tapi membunuh inisiatif. “Niat belajar jangan untuk menjadi pegawai saja. Pintu rezeki itu bukan hanya jadi pegawai,” Kata beliau. Bangsa Indonesia memang sarat dengan kemajemukan dan seluruhnya memiliki kebutuhan, dunia usaha begitu jika sedikit melacak apa yang dibutuhkan orang.

Namun sebagian besar lebih memilih pola berpikir masa lampau yang bergantung pada zona nyaman sehingga lebih memilih jadi pegawai. Di Gontor ada namanya Panca Jiwa yaitu; keikhlasan, kesederhaan, jiwa berdikari, ukhuwah Islamiyah dan jiwa bebas. Ada berbagai nasihat dari Kyai Gontor agar santri-santrinya tidak menjadi Pegawai Negeri atau bergantung pada Pemerintah.

Hal ini disampaikan berulang-ulang dalam banyak kesempatan, santri juga praktek langsung mengurus bidang-bidang usaha pesantren seperti koperasi, kantin, laundry, dapur umum, foto copy, fotografi, mengurus sampah dan sebagainya. Jangan jadi pegawai negeri itu dalam artian lebih pada paksaan agar santri jadi pengusaha, tapi bagi yang terlanjur jadi pegawai negeri, jangan juga terlalu bergantung pada pemerintah, sehingga lupa berwirausaha.

Selaku pendiri pondok, Pak Zar selalu bertutur lewat nasihat di berbagai kesmpatan,”Yang paling utama jangan kecil hati menghadapi masa depanmu, meskipun kamu akan menghadapi cobaan dan ujian yang berat. Ingatlah bahwa masa depanmu masih cerah.”

Ketika kita sedang menghadapi masalah besar, biasa hati terasa sempit. Akan berbeda ketika kita menasehati orang lain yang sedang punya masalah, bahkan dengan mudah menemukan alternatif penyelesaian. Datangnya masalah sebenarnya mendidik kita, melatih kesabaran kita, dan memperkuat karakter kita.

Orang bijak mengatakan, “Orang lemah dihancurkan oleh masalah, sedangkan orang kuat dicerahkan oleh masalah.” Bagaimana manusia nampak belangnya ketika diterpa masalah, bagaimana watak dan amanah akan teruji di tengah peliknya permasalahan.

Beliau memberikan dorongan agar berperilaku jujur dalam berbisnis,” Dalam hal apapun kita harus memiliki mental jujur, karena jujur lebih penting dari pada hasil.” Kejujuran berimbas pada kepercayaan, kepercayaan adalah modal utama. Masyarakat akan menilai segala segi dari wujud kita.

Dan Allah menilai dari niat kita, banyak orang berpikir bahwa untuk hidup itu pasti kita memerlukan uang dan orang hidup harus cari uang, tanpa sadar diperbudak oleh uang. Rezeki memang harus dicari untuk kelangsungan hidup kita. Tinggal kita jawab, hidup kita ini untuk apa? Kalau hidup hanya agar bisa bernafas, sungguh kita akan merugi.

Karena ada kehidupan setelah ini. Mencari rezeki hendaknya disertai dengan doa, karena rezeki datangnya dari Allah, maka kita wajib dan harus meminta kepada Allah. Jika kita berniat bekerja untuk keluarga kita yang terdiri dari 10 orang, maka Allah akan memberikan kita rezeki untuk 10 orang. Nasihat emas ini dibahas pada Bab delapan dan disandingkan dengan nasihat lain dalam satu bingkai tentang niat.

Masih melekat di ingatan kita ketika Rasulullah melakukan ekspansi dagangnya ke luar negeri pada usia 16 tahun. Berdagang  adalah membeli barang dari pihak pertama untuk selanjutnya ditawarkan, dijual kepada pihak kedua. Fungsi dan peran kita sebagai pedagang adalah menghubungkan pemilik barang dengan pembeli. Apalagi maraknya jual beli online, tentu perantara menjadi sosok strategis dalam kelancaran transaksi.

Gempuran arus globalisasi menuntut para kreator untuk lebih memiliki daya ledak lagi dalam mengkreasi produknya. Seperti sudah kita ketahui bersama, di negara maju, 5% penduduknya berwiraswasta. Di Singapura sebagai contoh, 7% dari penduduknya berwiraswasta.

Sedang di Indonesia baru 0,18% dari penduduknya yang berwiraswasta. Pak Zar mengilustrasikan makna Saudagar, asal katanya dari “Sau” (seribu) dan “Dagar” (otak). Maka saudagar adalah pemilik dari seribu otak. Saudagar sering harus bisa melakukan hal yang tidak mungkin.

Oleh karena itu, harus memiliki seribu otak untuk siap melakukan semua hal yang diperlukan guna memecahkan masalah, demikian salah satu ungkapan pamungkas dari buku setebal 220 halaman ini. Buku ini sarat akan nilai perjuangan, pendidikan, dan kemandirian.

Akan tetapi, sejatinya belum dikaji secara mendalam. Tentu ada banyak harta karun yang belum digali dari nilai kehidupan di Gontor. Ragam gagasan KH. Imam Zarkasyi akan selalu relevan dalam mencetak generasi berdikari dan paripurna dalam rangka mengisi kemerdekaan bangsa Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Comment