Pondok Gontor

Biografi Hamid Fahmy Zarkasyi (Ulama Intelektual Indonesia)

Biografi Hamid Fahmy Zarkasyi – Kalau kita bicara tentang Barat, sebenarnya bukan membicarakan soal lokasi.  Sama seperti Islam, bukan berarti tentang sholat saja, baik sholat hajat untuk impian maupun sholat wajib. Karena Australia letaknya di Selatan juga disebut negara Barat. Jadi, sebenarnya maksud Barat di sini merupakan sebuah ideologi. Nah, ada salah satu ulama dan intelektual Indonesia dengan sigapnya mengguncang ideologi tersebut dan mengestafetkan gagasan baru yang dikenal dengan gerakan Islamisasi Ilmu.

Beliau adalah  Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A. Ed, M. Phil,  lahir di Gontor, 13 September 1958, adalah putra ke-9 dari KH. Imam Zarkasyi, pendiri Pesantren Modern Gontor Ponorogo. Karena kecakapan beliau, sampai-sampai banyak lembaga yang membutuhkan tangan dingin beliau agar berkenan menduduki posisi pimpinan.

Beliau berkarya di banyak institusi, diantaranya Pemimpin Redaksi Majalah ISLAMIA, Direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSIST) dan Ketua Umum MIUMI Pusat.

Hamid Fahmy Zarkasyi dan Gontor

Pondok Gontor
youtube.com

Pak Hamid (panggilan akrab beliau) lahir sebagai putra ke-9 dari salah seorang Trimurti pesantren Gontor KH. Imam Zarkasyi Rohimahullah. Tumbuh dan berkembang di lingkungan Islami modern seiring dengan pembentukan akhlak dan  juga corak pendidikan yang tidak terlepas dari lembah keilmuan dan keagamaan.

Beliau mengawali pendidikan menengahnya di Kulliyatul Mualimin Al-islamiyah (KMI) Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Setelah tamat dari KMI beliau melanjutkan  S1nya di institut studi Darussalam (ISID) Gontor yang sekarang menjadi Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor.

Belajar Peradaban di Pakistan

westernisasi
ilm.com.pk

Sekian waktu menimba ilmu di lingkungan Pesantren Gontor, Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi menyelesaikan pengembaraan intelektualnya pada jenjang S2 (MAEd) dalam bidang pendidikan di The University of Punjab, Lahore, Pakistan.

Pak Hamid pernah bertutur,  pasca pulang dari Pakistan beliau sering diundang ke acara-acara yang tidak ada kaitannya dengan  disiplin keilmuan yang selama ini digeluti di bangku kuliah, yakni pendidikan. Pada forum-forum tersebut beliau justru lebih banyak diminta berbicara menyoal serangan Westernisasi yang mengguncang dunia pemikiran dan peradaban Islam.

Westernisasi adalah suatu proses dimana masyarakat berada di bawah kendali budaya Barat dalam berbagai bidang baik itu agama, filsafat,  industri, teknologi, hukum, politik, ekonomi, gaya hidup, gaya makan, fesyen, bahasa,  hingga nilai-nilai.

Bersinggungan dengan Generasi Pengusung Westernisasi

gontor
student.crowd

Gayung pun bersambut, kala ada kesempatan belajar lebih dalam tentang banyak hal terkait Islam perspektif Barat, beliau mengiyakan kesempatan melanjutkan Pendidikan S2 jilid 2 (M.Phil) pada departemen Islamic Studies, University of Birmingham, United Kingdom.

Pernah suatu waktu Pak Hamid menulis Tesis, Dr. David Thomas memberi nasihat, “kalau anda mau objektif anda harus keluar dari (cara pandang) Islam.” Beliau terkejut tapi tidak langsung menjawab, sebab Dr. David orangnya temperamen. Pada temu janji berikutnya Pak Hamid baru menjawab, “If I get out of Islamic framework I will be, epistemologically, no longer a Muslim.” Raut muka Dr. David berubah, ia lalu tertawa terkekeh-kekeh, “ok…..ok…forget it,” Katanya.

Karena sejatinya tujuan “nyantri” kepada Orientalis harus semakin jelas bahwa kian kentara mana madu dan mana racun. Tidak ada masalah terobsesi belajar di Barat asal tidak terbaratkan. Karena tidak sedikit kaum intelektual Indonesia belajar ke Barat namun justru terkontaminasi . Pak Hamid adalah salah satu yang kebal meski belajar di Barat.

Para Orientalis begitu serius mempelajari Islam dan sangat all out mencari-cari kesalahan pada Al-Qur’an meski hal itu mustahil, tapi inilah militansi para Orientalis tersebut. Selesai dari University of Birmingham, Pak Hamid kembali ke Tanah Air, membagikan segala ilmu dan pengalaman kepada para manusia-manusia yang tidak lekas kering semangat belajarnya.

Menelaah Peradaban Islam dari Al-Attas

peradaban Islam
picssr.com

Pasca pulang dari Birmingham pula Pak Hamid merasa sudah mengetahui apa saja tentang dunia Pemikiran dan Peradaban Islam. Namun waktu selalu berulah dan situasi kian berubah. Pak Hamid dipertemukan oleh orang yang sangat kontributif dalam dunia Islam Tokoh kelahiran Indonesia dan berkiprah di Negeri Jiran seperti halnya Habib Ali Zaenal Abidin Al Hamid.

Beliau adalah Prof. Syed Muhammad Naquib Al Attas, masyarakat internasional masih bisa menikmati sebuah wawancara menarik di Youtube, antara Hamza Yusuf, direktur Zaytuna Institute, Amerika Serikat, dengan Prof. Syed Muhammad Naquib al- Attas.

Tahun 2009, Hamza Yusuf dinobatkan sebagai “The Western World’s Most Influential Islamic Scholar” dalam “The 500 Most Influential Muslims.” Dalam wawancara tersebut, Hamza Yusuf menyebut Prof. Al-Attas sebagai ulama dan filosof besar di zaman ini yang punya pengaruh besar di dunia Islam. Pak Hamid bertemu Al Attas ketika melanjutkan studi S3 (Ph.D) bidang Pemikiran Islam di International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) IIUM Malaysia.

Selama di Malaysia, beliau terlibat dengan diskusi-diskusi kecil para mahasiswa International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) asal Indonesia dan sejumlah dosen di sana. Ketika itu ada Adnin Armas, mahasiswa ISTAC yang juga alumni Gontor, beliau menulis tesis master di bidang Sains Islam berjudul “Fakhruddin al-Razi on Time,” Nirwan Syafrin, Adian Husaini, Ugi Suharto hingga Anis Malik Thoha.

Lulus program Ph.D. dari International Institute of Islamic Thought and Civilization – International Islamic University Malaysia (ISTAC-IIUM) Malaysia.  Disertasinya berjudul ‘Al-Ghazali’s Concept of Causality.’

Para penguji Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi  diantaranya, Prof. Dr. Osman Bakar, Prof. Dr. Ibrahim Zein, dan Prof. Dr. Torlah. Prof. Dr. Alparslan Acikgence, penguji eksternal dari Turki, memuji kajian Hamid terhadap teori kausalitas al-Ghazali pada kajian sejarah pemikiran Islam. Sebab, pendekatan Hamid terhadap konsep kausalitas al-Ghazali telah menjelaskan sesuatu yang selama ini telah dilewatkan oleh kebanyakan pengkaji al-Ghazali.

Memimpin INSIST

pondok gontor
voa-islam.com

Sebagai pribadi yang begitu menjiwai dunia pemikiran Islam, beliau juga sangat lekat dengan figur intelektual muslim abad ini. Figur intelektual dan keulamaan sekaligus ada pada diri seorang Hamid Fahmy Zarkasyi. Obrolan selama di Malaysia membuahkan suatu wadah mentradisikan ilmu seperti halnya kiprah para ulama pada generasi kejayaan Islam di masa silam.

Seiring berdirinya institusi yang akrab dengan nama direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS), sekaligus menjadikan beliau dinobatkan sebagai direktur.

Sejak berdiri para 14 tahun silam, banyak program yang sudah dilakukan Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS), terutama yang berkaitan dengan upaya mengkounter pemikiran dan pemahaman menyimpang mengenai agama dan nilai kebenaran.

Kiprah lembaga pemikiran tersebut terbagi ke dalam empat hal. Pertama, edukasi. Bentuknya diantaranya seperti workshop dan seminar yang telah diadakan di berbagai kota, kampus, ormas, dan pesantren. Berikutnya, riset atau penelitian. Program ini sendiri dibagi menjadi dua.

Ada keilmuan murni dengan mengkaji sumber-sumber primer untuk menyelesaikan masalah-masalah kontemporer. Ada juga penelitian lapangan. Seperti saat terjadi kasus kerusuhan di Sampang, Madura dan di Tanjungbalai, Sumatera Utara. Ada  tim yang diterjunkan   untuk meneliti.

Ketiga,  yakni konsultasi. INSIST  meluangkan waktu jika ada yang ingin bertanya tentang suatu masalah atau bidang ilmu. Selain itu, juga memberikan bimbingan, baik formal maupun informal. Misalnya mahasiswa yang ingin melakukan penelitian.

INSIST juga punya program on air di salah satu radio dalam segmen Prespektif Pemikiran Islam. Dan yang terakhir, wilayah penerbitan. Seperti buku-buku, monograf, baik yang bertema pemikiran maupun umum. Jurnal Islamia, newsletter, termasuk kolom rutin di salah satu media cetak nasional.

Amanah di MIUMI

westernisasi
miumipusat.org

Pernah suatu ketika Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi menyampaikan,” Jadilah pribadi yang “kelebihan” potensi, jadi guru kelebihan potensi, akhirnya jadi kepada sekolah, jadi kepala sekolah kelebihan potensi, akhirnya naik tingkat lagi kalau perlu sampai jadi Bupati.”

Sosok kelebihan potensi semacam itu nampaknya memang tercermin pada sosok Pak Hamid. Dengan segenap kapasitas yang dikaruniakan dari Allah kepada diri beliau, dengan segala inisiasi Pak Hamid dan para ulama muda Indonesia, beliau diminta mengabdi di kursi pimpinan Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI).

Deklarasi MIUMI

Kesinambungan risalah keilmuan, perjuangan dan dakwah di nusantara adalah amanah dan tanggung jawab intelektual dan ulama dari masa ke masa.

Problematika multidimensi, berupa krisis akidah dan akhlak, kelemahan ilmu dan kerancuan pola pikir, serta merosotnya otoritas ulama dan kepemimpinan umat dan bangsa, memerlukan solusi ilmiah dan amaliyah

Derasnya arus liberalisasi dan maraknya aliran menyimpang yang mengancam akidah dan persatuan, memerlukan revitalisasi lembaga dan penyatuan potensi intelektual dan keulamaan.

Berdasarkan pemikiran di atas, maka kami dari berbagai unsur intelektual dan ulama muda bergabung untuk memperjuangkan kokohnya akidah, meningkatkan ilmu pengetahuan dan membangun persatuan umat dan bangsa, maka dengan ini kami mendeklarasikan berdirinya Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) untuk Indonesia yang lebih beradab.

Allahu Akbar!!

Menggagas CIOS UNIDA Gontor

liberalisme dalam Islam
ciosunidasiman.blogspot. com

Pulang dari Inggris, Pak Hamid mulai memetakan pusat studi pemikiran yang diharapkan bisa menjadi wadah diskusi bagi para mahasiswa, akademisi sampai peneliti. Awal berdirinya CIOS (Center For Islamic And Occidental Studies) adalah sebagai salah satu pusat studi di UNIDA Gontor yang didirikan berdasarkan suatu ide bahwa Islam adalah agama dan peradaban, dan saat ini sedang menghadapi tantangan dari peradaban lain, khususnya Barat.

Namun, tantangan itu bukan baru dalam sejarah peradaban Islam, sebab sejarah mencatat, Islam memiliki pengalaman berhadapan dengan peradaban asing seperti Yunani, Persia, India, dan lain sebagainya. Perlu dicatat bahwa di masa lalu sebelum para ulama berhadapan dengan peradaban asing, pemahaman mereka terhadap konsep-konsep dasar Islam cukup kuat.

Mereka menguasai, misalnya, pengetahuan tentang al-Qur’an dan Hadits, ilmu Tafsir, Fiqih, dan Ushul Fiqih, aqidah, dan sebagainya. Sehingga ketika berhadapan dengan konsep-konsep asing dari India, Persia, Yunani, mereka memiliki kemampuan untuk mengadopsi atau memodifikasi konsep-konsep tersebut guna dikembangkan dalam framework pemikiran Islam. Proses inilah yang dewasa ini disebut “Islamisasi Ilmu Pengetahuan”.

Kini umat Islam menghadapi kendala dalam melakukan proses tersebut. Hal ini disebabkan oleh dua hal: yaitu melemahnya penguasaan konsep-konsep penting dalam tradisi intelektual Islam dan besarnya pengaruh konsep-konsep asing dalam pemikiran umat Islam. Mereka kurang mendalami ilmu-ilmu Islam dan uga tidak mendalami ilmu-ilmu modern dari peradaban Barat.

Memang, banyak di antara mereka lebih menguasai ide-ide Barat daripada konsep-konsep Islam, sehingga mendorong mereka mengadopsi ide-ide dan teori-teori yang tidak Islami secara tidak kritis. Untuk mengatasi situasi inilah CIOS didirikan. Tujuannya adalah untuk menggali konsep-konsep kunci dalam Islam melalui pemikiran salaf salih, dan pada saat yang sama mengkaji konsep-konsep kunci peradaban Barat.

Dengan pendekatan ini diharapkan konsep-konsep Islam dapat dijelaskan, dielaborasi dan dipraktikkan dalam berbagai bidang seperti ekonomi, pendidikan, politik, budaya, sains, sosial, dsb. agar dapatmenjawab tantangan masa kini. Pada saat yang sama, konsep-konsep Barat akan dikaji secara kritis dan selektif sebelum diadapsi ke dalam konsep-konsep Islam.

Peresmian CIOS diadakan bertepatan dengan perayaan 80 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor. Peresmian dilakukan oleh Sekjen Liga Universitas Islam Sedunia, Prof. Dr. Ja’far Abdussalam. Acara peresmian ini dilaksanakan bertepatan dengan Seminar Nasional menuju Universitas Islam Darussalam, pada tanggal 5 Mei 2006/7 Jumada Tsaniyah 1427.

Pada kesempatan tersebut, Prof. Dr. Ja’far Abdussalam menyampaikan kuliah perdana tentang “Tantangan Dunia Islam” dan dilanjutkan dengan penandatanganan prasasti.

Peresmian kedua dilaksanakan oleh Syeikh al-Azhar, Syeikh Prof. Dr. Muhammad Sayyid Tantawi seusai menyampaikan pidatonya pada pertemuan puncak peringatan 80 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor.

Aktivitas Sekarang

hamid fahmy zarkasyi
unida.gontor.ac.id

Geliat keilmuannya dituangkan dalam berbagai tulisan di media masa. Beliau mencoba mengkritik sesuatu yang diapresiasi orang, dan mengapresiasi beragam konsep tradisional Islam yang selama ini dilupakan orang. Wakil Rektor dan Direktur Program Pascasarjana Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor ini pernah mewakili umat Islam Indonesia dalam simposium tentang masa depan politik Islam di JIIA Tokyo 2008.

Dalam bidang pendidikan beliau adalah salah satu anggota dari tujuh Advisory Panel for International Academy of Islamic Education (IAME) yang berinduk di Malaysia (2010-sekarang). Sekarang selain aktif menulis di berbagai media masa dan beberapa jurnal, keseharian Hamid Fahmy Zarkasyi diisi untuk mengajar dan juga memimpin Program Kaderisasi Ulama (PKU) Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor

Ulasan Tentang Buku

buku misykat
ppi.org

Buku ini merupakan kumpulan tulisan beliau di majalah ISLAMIA dan jurnal Islamia di harian Republika selama tiga tahun (2009-2012). Munculnya tulisan ini merupakan respom ilmiah merebaknya paham Barat yang meracuni negara-negara islam termasuk Indonesia.

Banyak paham, ideologi atau keyakinan yang datang silih berganti ke dalam pikiran umat islam dalam bentuk pendapat (opini), pandangan, ide, atau wacana. Semua itu kita konsumsi melalui media masa, media elektronik ataupun diskusi-diskusi umum.

Jadi, perang pemikiran sudah amsuk ke tahap dimana seorang wanita bersikap biasa kala memamerkan auratnya lewat media massa. Tanpa disadari paham-paham itu merasuk kedalam alam pikiran umat islam dan bangsa indonesia, yang kemudian menjelma menjadi cara pandang masyarakat umum.

Padahal hal itu berasal dari pandangan hidup Barat yang tidak selalu sejalan dengan pandangan hidup bangsa indonesia yang cenderung ketimuran. Sayangnya sejauh ini tidak banyak yang secara berani mengkritis pendapat-pendapat atau wacana-wacana itu dalam bentuk yang populis dan ilmiah.

Lahirnya buku Misykat ini adalah upaya melihat Barat dengan program Westernisasinya secara obyektif, dengan tetap mempertahankan identitas dan cara pandang Islam. Dengan hadirnya buku ini di tengah-tengah masyarakat merupakan sebuah momentum tampilnya sosok unik di pentas dakwah Islam Indonesia, bahkan dunia internasional. Sosok itu adalah Hamid Fahmy Zarkasyi.

Selama beberapa tahun terakhir, tampilnya putra pendiri Pesantren Gontor Ponorogo di pentas pemikiran Islam telah memberikan tawaran baru yang berlawanan dengan gagasan-gagasan yang membaratkan Islam. Hamid Fahmy Zarkasyi bukan saja mengkritisi westernisasi, beliau juga menawarkan gagasan besar yang sedang melaju kencang di dunia Islam, yaitu Islamisasi Ilmu. Karena lahirnya suatu ilmu tidak mungkin bebas nilai, setiap ilmu pasti ada muatan ideologi.

Sepanjang tahun 2004, masyarakat sudah mulai mengenal sepak terjang pemikiran Pak Hamid melalui rubrik Prolog dan Epilog di Jurnal ISLAMIA yang diterbitkan INSIST. Dalam catatan Redaksi ISLAMIA, kolom yang diisi Pak Hamid merupakan kolom yang paling banyak diminati pembaca. Kemudian, sejak tahun 2009, INSISTS menjalin kerjasama degan Harian Republika untuk menerbitkan Jurnal Pemikiran Islam, Islamia-Republika, yang terbit bulanan, dan hadir setiap hari Kamis pekan ketiga.

Di Jurnal Islamia versi koran ini, Pak Hamid bertindak sebagai penulis kolom tetap yang diberi nama MISYKAT. Gagasan-gagasannya tentang de-sekularisasi, de-westernisasi, dan Islamisasi, secara konsisten mewarnai beragam gagasan dalam tulisannya. Survei Litbang Harian Republika tahun 2010 menunjukkan, Jurnal Islamia-Republika, merupakan rubrik non-berita yang paling banyak dibaca dan diminati oleh pembaca Republika.

Dan kini, kumpulan artikel dan berbagai tulisannya yang meluas di berbagai media, telah dihimpun dalam satu buku berjudul “MISYKAT: ISLAM, WESTERNISASI, DAN LIBERALISASI (JAKARTA: INSISTS, 2012). Sekarang, Insya Allah, dunia pemikiran Islam Indonesia sedang memasuki gairah dan era baru: Era Islamisasi Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi yang sudah diaplikasikan dengan berdirinya Pusat Islamisasi Ilmu di Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor.

Akhirnya, tibalah kita pada penghujung bahasan. Hamid Fahmy Zarkasyi dengan segala kiprah intelektual dan keulamaannya menjadi sebuah figur penting untuk diteladani dan sebagai generasi muda hendaknya kita siap dengan estafet perjuangan yang mungkin akan kita terima suatu saat nanti. Intinya jangan ragu bersinggungan dengan dunia luar yang memang berbeda dari aspek sudut pandang dan budaya.

Misal ada kesempatan melanjutkan studi di negara-negara Barat tidak ada salahnya, selama tidak ter-Baratkan. Namun, apabila pondasi aqidah belum mumpuni, studi di dalam negeri juga menjadi pilihan yang bijak. Semoga bermanfaat dan tetap kritis!

Leave a Comment