kisah inspiratif

Mau Tahu Kisah Inspiratif Anak Daerah yang Mendunia? Simak Ulasannya!

Kisah Inspiratif – Tidak mudah menjalani kehidupan dengan fasilitas yang serba terbatas. Apalagi badai tekanan nyaris tak kunjung usai. Akan tetapi, disinilah fungsi seleksi alam. Dari sekian banyak nafas manusia yang tersengal, tidak sedikit keberhasilan menunjukkan jati diri untuk berbuat lebih. Kamu akan mengetahui orang-orang seperti apa yang nyatanya diakui dunia, padahal mereka berasal dari daerah.

Hadi Susanto

kisah inspiratif
duniadosen.com

Tidak banyak orang Indonesia yang mampu menopang tanggungjawab sebagai Associate Professor in Applied Mathematics di University of Essex, UK. Namun hal itu sangat mungkin bagi seorang Hadi Susanto, kisah inspiratif ini berasal seseorang yang boleh disebut sebagai salah satu matematikawan muda dunia yang berasal dari Indonesia.

Mulanya ia duduk di bangku Sekolah Dasar di SDN Kunir Lor 1, Hadi Susanto kecil sangat antusias mengamati bagaimana angka-angka bisa dimainkan dengan operasi-operasi yang satu sama lain saling berhubungan. Senyumnya kian simpul manakala ia berhasil mengerjakan dan menjawab soal-soal pekerjaan rumah yang diberikan sang guru dengan sempurna. Demikian awal kisah matematikawan kelas dunia yang bernama Hadi Susanto, kelahiran Lumajang, 27 Januari 1979.

Ketertarikannya yang teramat sangat pada dunia matematika semakin tersalurkan saat memasuki bangku Sekolah Menengah Pertama di SMPN Kunir. Kisah inspiratif tersebut sedikit demi sedikit nampak pada diri Hadi yang mulai melihat bahwasanya dasar dari fenomena alam di sekitar kita bisa dirumuskan melalui matematika.

Ketika lulus SMP dan berhasil masuk SMAN 2 Lumajang, ada rasa minder lantaran kala itu, ia adalah satu-satunya siswa asal kecamatan Kunir yang berhak menuntut ilmu di sekolah itu, di tengah kondisi ekonomi keluarga yang kekurangan

Baca Juga: Travel Lumajang Surabaya

Butuh waktu menjadi pribadi yang bisa percaya pada diri sendiri. Hadi pun demikian, ia menjelma menjadi sosok yang demikian percaya diri setelah melalui tahapan yang tidak sebentar. Ia berbalik bangga sebagai anak desa yang bisa sekolah di kota. Bahkan, dengan penuh kesadaran untuk meringankan beban ekonomi keluarga. Hadi juga tak diberi uang saku. Saban hari, berbekal nasi plus air minum ala kadarnya, dengan lapang hati  dan tidak ingin dipermalukan oleh perjuangan Oemar Bakrie, Hadi gowes menuju sekolah.

Memilih Kuliah

Prestasinya yang kian moncer di pengujung SMA, membuat Hadi berhasil lulus dengan memuaskan. Namun, di saat yang sama, bahtera usaha orang tua yang tengah oleng, nyaris membuat dia tak bisa berkata-kata. Sebagai anak pertama, tentu saja Hadi harus ikut memikirkan kelangsungan napas kehidupan mereka. Maka di satu kesempatan, Hadi berkata lirih

Masalah baru muncul. Usai dinyatakan lulus UMPTN, calon mahasiswa wajib membayar uang masuk, termasuk Hadi. Meski hanya beberapa ratus ribu, namun uang sejumlah itu tetap terasa berat bagi mereka.

Hadi pun nyaris mengubur impiannya dalam-dalam untuk bergabung di ITB. Namun kembali, sang Ibu pantang menyerah. Hingga detik terakhir, dengan mengais sisa-sisa modal usaha,  wanita paling berjasa dalam hidupnya itu terus berjuang agar sang buah hati tetap bisa menuntut ilmu.

Berkesempatan ke Negeri Orang

Dua tahun pertama di  ITB, kesulitan belum beranjak dari kehidupan Hadi. Maka ia pun menyengaja aktif di ekstrakurikuler Perkumpulan Seni Tari dan Karawitan Jawa (PSTK), salah satunya untuk mendapatkan makan gratis, terutama saat manggung di acara resepsi pernikahan.

Masuk tahun ketiga, ia nyaris menyelesaikan studinya, sebelum kesempatan itu datang. Kesempatan untuk mengerjakan Tugas Akhir (TA) S1-nya di Universiteit Twente (UT), Belanda, selama sekitar 8 bulan, atas rekomendasi dosen pembimbingnya di ITB. Di saat yang hampir bersamaan, Hadi pun meraih penghargaan bergengsi di ITB, Ganesha Prize tahun 2000, sebagai Mahasiswa Berprestasi Utama. Dan berhak atas hadiah mengunjungi negeri Belanda selama 3 bulan.

Selepas masa kunjungan berakhir, pihak UT menawari Hadi melanjutkan studi, lantaran potensinya yang cukup diperhitungkan. Tentu saja peluang itu ia sambut dengan sukacita. Akhirnya setelah wisuda S1, Hadi meneruskan program kombinasi MSc/PhD di UT, untuk periode 4 tahun.”

Di usia 27 tahun, saat gelar PhD  sudah di tangan, tak lantas membuat lelaki penyuka sastra ini berhenti menyempurnakan ilmunya. Selesai dari Twente ia lanjutkan studi post doctoral di University of Massachusetts, Amerika Serikat. Di sana, keahliannya di bidang matematika semakin terasah tajam. Betapa tidak, selain melakukan riset,  Hadi berkewajiban mengajar dua kelas matematika per semester.

Kepercayaan dirinya kian bertambah, hingga menjelang selesai studi di Massachussets, Hadi mencoba peruntungan dengan mengirimkan lamaran pekerjaan sebagai dosen ke sejumlah kampus di Eropa dan Amerika. Hingga kemudian di University of Nottingham,  Inggris, Hadi mengamalkan ilmunya sebagai dosen matematika.

Transfer Ilmu

kisah inspiratif
harvester.co

Dalam rekam jejak akademisnya, tercatat sudah 50 judul karya ilmiah Hadi Susanto yang terbit di beberapa jurnal internasional prestisius, semisal; Physical Review, SIAM Journals, Physics Letters A dan Optics Letters.

Hobinya di bidang sastra, ia manifestasikan dalam banyak karya. Beberapa sajaknya masuk antologi puisi; Graffiti Gratitude,  Les Cyberletters: antologi puisi cyberpunk, Dian Sastro for President #3. Plus Cerpen dan Esai: Merah di Jenin, Jika Cinta, Dari Negeri Asing, Graffiti Imaji, Cyber Graffiti.

Saat dimintai pendapat tentang sejarah yang mengatakan bahwa peradaban Islam adalah peradaban ilmu, Hadi meyakini bahwa memang peradaban Islam banyak memberikan sumbangan kepada ilmu pengetahuan yang saat ini kita nikmati.

Hadi pun sangat bersyukur mendapat kesempatan seperti sekarang. Belajar dan mengajar. Dengan menjadi pengajar ia mengaku banyak belajar hal-hal baru. Terlebih  yang menjadi tujuan adalah untuk mengamalkan dan mengajarkan ilmu. Perjalanannya sejak studinya sejak di Lumajang sampai sekarang termaktub dalam karyanya yang berjudul “Tuhan Pasti Ahli Matematika.”

Agustinus Wibowo

kisah inspiratif
idwriters.com

Bagi sebagian orang, aktivitas travelling murah sebagai seorang bakckpaker adalah hobi. Bagi Agustinus Wibowo, menjadi backpaker adalah kehidupan, napasnya setiap hari. Kisah inspiratif berikutnya dari Agustinus Wibowo. Lahir di Lumajang, Jawa Timur, tahun 1981 sebagai putra pertama pasangan Chandra Wibowo dan Widyawati.

Pasca Lulus dari SMU 2 Lumajang ia melanjutkan kuliah pada jurusan Informatika di Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS). Satu  semester ia jalani di ITS, sebelum akhirnya memutuskan pindah kuliah ke Fakultas Komputer Universitas Tshinghua, Beijing.

Ia memulai perjalanannya dengan bekal 2.000 dolar AS hasil tabungannya selama kuliah di Universitas Tshinghua, Beijing, Cina. Ketika duitnya habis ia akan menetap sementara di suatu tempat, bekerja serabutan guna mengumpulkan duit lagi dan kembali melanjutkan perjalanan.

Di Lumajang ia tumbuh sebagai anak rumahan, lebih senang menghabiskan waktunya di kamar sebagai kutu buku. Semua perubahan itu dimulai pada tahun 2002. Saat itu, seorang temannya di Tsinghua menantangnya untuk ”backpack” ke Mongolia.

Baca Juga: Travel Malang Surabaya

Ternyata, Agus tidak pernah bisa menghentikan langkahnya sejak saat itu. ”Semakin sering saya travelling sebagai backpaker, semakin dalam keingintahuan saya tentang hal-hal baru di dunia ini. Tidak hanya sebagai penonton, tapi terlibat sepenuhnya dengan seluruh pengalaman perjumpaan dengan masyarakat dan kebudayaannya. Dunia ini tidak seluas daun kelor.

Karya

kisah inspiratif
korneliusginting.web.id

 

Ada banyak kehidupan lain di luar sana dan ada banyak kebajikan yang kita tidak pernah tahu sebelumnya,” jelas Agus yang karena perjalanannya telah menguasai bahasa Hindi, Urdu, Farsi, Rusia, Tajik, Kirghiz, Uzbek, Turki, dan sekarang dalam proses menguasai bahasa Arab, Armenia, dan Georgia. Selain itu, ia fasih bahasa Inggris, Mandarin, Indonesia dan tentu saja bahasa Jawa.

Tidak cuma sekali dua kali Agus mengalami kejadian-kejadian naas seperti itu. Seorang pengelana mau tidak mau harus berteman dengan marabahaya. Anak mami yang bertahun-tahun hidup dalam kehangatan keluarga itu telah berulangkali ditangkap polisi, ditahan agen rahasia, dipukul preman, diserang perampok, dan bersahabat dengan rasa lapar. Ia pernah putus asa karena kameranya rusak total dan uang bekalnya dicuri orang. Yang paling buruk, karena sembarangan menginap di rumah orang ia pernah salah mampir di rumah pelaku kriminal.

Tahun 2003 ia terobsesi mengunjungi Afghanistan. Mendengar nama negara itu saja orang sudah bergidik ngeri karena bayang-bayang kekerasan perang yang tiada henti di sana. Agus pun pergi diam-diam tanpa memberitahu orangtuanya, menuju negeri yang identik dengan darah, Taliban, dan perang. Tapi, toh mereka tahu juga tentang ”perjalanan gelapnya” ini. Sekembalinya dari Afghanistan, ia dimarahi habis-habisan oleh ibunya.

Dandhy Dwi Laksono

kisah inspiratif
teraslampung.com

Lahir di Lumajang pada tanggal 29 Juni 1976. Ia menyelesaikan kuliahnya pada jurusan Hubungan Internasional Universitas Padjajaran, Bandung. Kiprah jurnalistiknya berawal ketika menjadi reporter Tabloid Kapital (1998-2000), reporter majalah Warta Ekonomi (2000).

Redaktur Ekonomi untuk Radio PAS FM (2000), Pemimpin Redaksi Majalah AHA (Digital Lifestyle Magazine), penulis Editorial di Radio SMART FM (2001-2003), News Producer untuk Radio RAMAKO (2000-2002), News Producer untuk Liputan 6 SCTV (2002-2003), Analis Berita Politik untuk Radio ABC Australia (2001-2003), Pemimpin Redaksi situs dan majalah acehkita.com (2003-2005), dan Kepala Seksi Peliputan RCTI (2006-2009).

Baca Juga: Travel Malang Banyuwangi

Ia juga sempat menyabet beberapa penghargaan dalam bidang jurnalistik. Seperti Jurnalis Terbaik Jakarta (2008) untuk liputan investigasi Pembunuhan Munir dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI), dan pemenang British Council Broadcast Competition untuk liputan investigasi lingkungan bertajuk Ranger Tepian Leuser (2008). Dandhy kini bergerak sebagai wartawan lepas dan pembuat video dokumenter.

Ia juga merintis WatchdoC Production House yang memproduksi film dokumenter. Karya-karyanya adalah Kiri Hijau Kanan Merah berdurasi 48 menit yang mengisahkan tentang Munir. Ia juga memiliki hobi membaca, dan menonton film. Film dokumenter Samin Vs Semen diputar di 10 kota di Jerman mulai April hingga Mei 2017. Film ini mengisahkan perjuangan komunitas Samin menolak kehadiran pabrik semen di pegunungan Kendeng.

 

Leave a Comment