doa shalat istikharah terkini

Menakar Keislaman Politik Indonesia dalam Konteks Kebangsaan

Politik dalam Islam bukan semata-mata rimba belantara yang memberi kebebasan bagi yang diamanahi kuasa untuk bertindak membabi-buta. Bukan pula medan pertarungan agar yang kuat menghardik yang lemah. Pemimpin kuat adalah pemimpin yang bisa mengambil keputusan tepat dalam hegemoni politik. Rancangan sistem politik Indonesia cenderung belum memiliki ruang makna yang baku semenjak negeri ini digagas oleh para Guru Bangsa.

Politik Terkini

berita hari ini
finspi.com

Berbagai episode politik Indonesia diwarnai dengan beragam regulasi berdasarkan paradigma politik menurut selera para pengendali kekuasaan. Politik yang juga berarti kekuasaan, dipersepsi tidak lebih dari sebuah prestise biasa sebagaimana teori kebutuhan yang lahir dari rumusan Abraham Maslow.

Tingkatan tertinggi dari tujuan hidup manusia, menurut Needs Theory  adalah aktualisasi diri. Belum lagi stigma bahwa politik itu kotor, frase ini sering kita dengar dari masyarakat yang tercemar paham apatisme terhadap politik. Perihal demikian memang tidak bisa dipersalahkan, sebab mereka hanya menilai dari berbagai informasi yang beredar. Dan Politik Indonesia juga tidak luput dari dampak atas media informasi.

Padahal politik sendiri memiliki berbagai macam definisi yang kesemuanya tidak ada yang menjurus kepada hal merugikan. Diantara definisi politik adalah keahlian memerintah dan menjalankan negara.

La Politica versi Plato

politik Inndonesia silam
pixabay.com

Plato, filsuf Yunani  yang diklaim banyak mengilhami praktik politik modern, lima abad sebelum masehi, telah membuat sebuah rumusan tentang konsep negara ideal yang menitikberatkan pada pembangunan kualitas manusia dengan melayani kebutuhan masyarakat.

Anggapan ini terkadang sangat diperlukan dalam kancah politik Indonesia. Akan tetapi, hal ini dimaknai berbeda oleh orang Barat yang menjadikan pembangunan hanya berorientasi fisik dengan menjulangnya gedung sampai melangkahi bangunan ibadah.  Menilik pandangan Plato tentang negara ideal, kemajuan sebuah negara dapat dilihat dari pembagian kerja (devision of labour) yang timbul secara alamiah di dalam masyarakat.

Setiap orang memiliki kecenderungan dan karakter yang berbeda dan dengan sendirinya minat akan pekerjaan juga berbeda. Sebab, kemunculan politik dalam perkembangannya lewat pemikiran akademis, tidak bisa dipisahkan dengan ilmu ekonomi yang banyak membahas kebutuhan eksistensial  manusia.

Salah satu ciri negara ideal menurut Plato adalah negara yang mampu melayani kebutuhan dasar manusia dalam rangka membangun kualitas kemanusiaan. Oleh karena itu, Plato mengklasifikasi pekerjaan menjadi tiga bidang, sebagai pengatur atau penguasa, tentara atau penjaga keamanan, dan para pekerja.  Bagi Plato, semua manusia bersaudara. Namun, Tuhan telah mengatur sedemikian rupa sehingga ada orang yang cocok sebagai pengatur (pemerintah). Ada juga yang cocok sebagai tentara dan ada juga yang cocok sebagai pekerja.

Dari jenis pekerjaan tersebut, hanya golongan terendah, yaitu kaum pekerja yang boleh bekerja mengejar laba dan mengumpulkan harta. Adapun penguasa dan tentara seyogianya tidak bekerja demi harta. Dengan sendirinya, masih menurut Plato, tidak diperkenankan mengumpulkan harta benda. Karena dengan cara seperti itu, mereka dapat berlaku sebenarnya untuk mengabdi pada negara sehingga layak disebut abdi negara. Ini tentu berbeda dengan konsep politik Islam yang mengacu pada dua variabel yaitu untuk mengatur dan menjaga agama.

Berita Politik Indonesia dan Wawasan Thomas Aquinas

politik
pixabay.com

Teolog Kristiani Thomas Aquinas berujar, negara merupakan lembaga sosial  manusia yang yang paling tinggi dan luas, berfungsi menjamin manusia dalam memenuhi kebutuhannya.  Oleh karenanya, setiap pegawai negara harus mampu berperan sebagaimana yang dicitakan negara untuk memenuhi kebutuhan warganya. Asas pembagian dan pengaturan ini  dianggap perlu karena sifat dasar manusia yang tidak pernah puas, bahkan cenderung tamak, ingin memiliki di luar kebutuhannya. Banyak pelajaran bagi politik Indonesia sebagai upaya membangun ideologi politik yang lebih dewasa demi kepentingan bangsa.

politik Indonesia terbaru
pixabay.com

Dan demikianlah pentingya keteraturan dalam sebuah negara.  Demikian pula jika pengabdian dan pelayanan, termasuk di dalamnya pemimpin negara, dianggap sebagai pekerjaan, akan timbul kekacauan dalam negara. Akhirnya, para pegawai  tersebut “berkompetisi” menimbun materi sehingga cara apapun akan ditempuh. Dan hal ini menjadi pintu bagi praktik koruptif yang bakal menggerogoti negara dan mencongkel kedaulatan politik Indonesia

Politik Indonesia yang Rahmatan Lil Alamin

politik Indonesia kita
pixabay.com

 

Reduksi makna politik untuk sekedar cara mencapai tujuan kurang bisa dibenarkan. Padahal dalam tatanan implementasi, politik mengalami deviasi makna yang terlampau jauh oleh ragam tafsir subjektif sesuai kepentingan setiap politisi. Politik kerap dipersepsikan sebagai pekerjaan yang mendorong publik untuk memaksakan diri menjadi politisi.

Kata politik yang berasal dari kata polis (kota), dalam bahasa Al Qur’an dikenal dengan kata al madiinah dengan segala komponen di dalamnya. Ibnu Khaldun dalam Muqaddimahnya menegaskan bahwa kota merupakan ciri peradaban (hadharah). Sebab  setiap kedaulatan membutuhkan kota dan dituntut untuk menguasainya demi melindungi kedaulatan dan stabilitas masyarakat.

berita
businessmantimes.com.sg

Lebih jauh, politik dalam Islam merupakan derivasi dari bahasa Arab (siyaasah adalah menegakkan atau menunaikan sesuatu dengan apa yang bisa memperbaiki sesuatu tersebut. Kuntowijoyo dalam tafsir kepemimpinan profetik menegaskan bahwa salah satu karakter pemimpin profetik adalah membawa misi humanisasi.

Humanisasi disini berkaitan  dengan amar ma’ruf dan nahi munkar  atau menyeru manusia kepada kebaikan dan mencegah manusia dari melakukan kemungkaran. Dalam aspek kemanusiaan inilah yang diharapkan Rasulullah salallahu alaihai wasalam sebagi pribadi yang terbaik. Coba kita telaah surat Al Anfal ayat 27 dan 28.

berita terbaru hari ini
hipwee.com

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan juga janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. (QS. 8:27) Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanya sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. (QS. 8:28)” (al-Anfaal: 27-28.

Syaikh Utsaimin juga menegaskan bahwa pemimpin yang amanah, menyelisihi hawa nafsu yang mempunyai tabiat menjerumuskan tuannya, pastilah mendapat karunia pengokohan dari Allah Swt dengan penjagaan pada keluarga serta harta sepeninggalnya.

berita dunia
rumahhufazh.or.id

Ulasan di atas hanya segelintir contoh situasi poitik Indonesia terkini. Yang jelas, matematika politik bukanlah sebuah kepastian. Akan ada banyak kontemplasi dari tuan-tuan menyoal bagaimana masyarakat politik Indonesia diantar menuju kemakmuran hakiki. Betatpapun kerasnya persaingan dan kotornya permainan menjadi sebuah batu sandung yang “alami” untuk mengasah ritme pergerakan dan pondasi penyelesaian ke depan.

Sebagai gugus depan politik Indonesia, keangkuhan dan egosime  bukanlah jalan keluar. Kita semua membutuhkan sedikit mulut yang enggan banyak bicara dan telinga untuk sudi mendengar. Sudah terlalu banyak kritikan dari rakyat untuk wakil rakyat, namun justru rakyatnya dibungkam. Jika dalam politik hanya ada wilayah abu-abu, tentu slogan “tidak ada musuh abadi, dan tiada kawan yang setia” sedikit mendekati kebenaran. Kita berbicara sebagai bangsa yang modern dan berkeadaban.

Perpaduan ragam budaya dan pola pikir ketimuran yang relijius menjadikan apa yang kita miliki sekarang menjadi aset tak ternilai sebagaimana kekayaan Sumber Daya Alam maupun manusianya. Semoga negeri ini tetap konsisten melahirkan para negarawan sejati seperti halnya Mohammad Natsir, Agus Salim hingga Soekarno demi politik Indonesia yang berkebangsaan.

Wallahu A’lam

 

Leave a Comment