isi dekrit presiden

Sejarah Nama Indonesia | Disertai Pengertian, Bahasa dan Fakta.

Sejarah Nama Indonesia – Selamat datang buat kamu warga Indonesia. Sejauh mana kamu mengenal sejarah bangsamu?Secara ringkas, awal mula sejarah nama Indonesia dari  eksistensi  Kerajaan Kutai sampai dengan Tarumanegara  yang notabene kerajaan kuno yang bersifat lokal wilayah setempat dengan pengaruh kebudayaan Hindu. Pengenalan kejayaan Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit  di masa silam nyatanya sudah muncul  nama bagi wilayah kepulauan yang merupakan tanah air bangsa Indonesia, yaitu Nusantara. Dan kurang dari 100 tahun lamanya, Nusantara menjadi mayoritas Islam hingga saat ini.   Kedatangan bangsa Barat ke Indonesia (Nusantara) juga layak diperbincangkan mengingat Nusantara sendiri terletak di sekitar khatulistiwa, tepatnya berada di kawasan Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, serta  Benua Asia dan Australia. Untuk lebih jelasnya, mari kita simaka bahasan berikut ini.

Sejarah Nama Indonesia

wawasan nusantara
sartononugraha.wordpress.com

Banyak versi yang menyatakan awal mula sejarah nama Indonesia yaitu adanya   nama Nusantara yang diberikan oleh pujangga Majapahit, sedang bangsa India memberikan nama pada Indonesia dengan Dwipantara. Kemudian, pada masa penjajahan Belanda, Indonesia diberi nama Hindia Belanda atau Nederlands Indie oleh pemerintah penjajah Belanda. Menurut buku yang diterbitkan MPR RI tahun 2016 tertulis Indonesia berasal dari kata Hindi (Hindu) dan Nesians (Kepulauan). Memang dahulu Indonesia mayoritas Hindu-Budha dan faktanya memang demikian.

Wawasan Nusantara

sejarah nama indonesia
bbc.com

Kala Sumpah Pemuda dicetuskan pada 28 Oktober 1928, sejarah nama Indonesia sebagai identitas pemersatu sebuah bangsa modern di Asia menjadi wadah suku bangsa, agama, dan sekat-sekat primordial.

Asal-usul nama Indonesia mulai dikenal pada medio tahun 1800-an. Menurut sejarawan Universitas Oxford, Peter Carey, nama Indonesia muncul dan diperkenalkan James Richardson Logan (1819-1869) tahun 1850 dalam Journal of Indian Archipelago and Eastern Asia.

Sejarah Bahasa Indonesia

bahasa indonesia
pixabay.com

Kelahiran bahasa Indonesia ditetapkan pada  tanggal 28 Oktober 1928. Para pemuda pada waktu itu berdatangan dari berbagai pelosok Nusantara berkumpul  dan berikrar (1) bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia, (2) berbangsa yang satu, bangsa Indonesia, dan (3) menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Gema ikrar  para pemuda ini dikenal sebagai Sumpah Pemuda.

Munculnya Sumpah Pemuda merupakan pernyataan tekad bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan bagi seluruh bangsa Indonesia. Pada tahun 1928 itu barulah kedudukan bahasa Indonesia dikukuhkan

Bahasa Indonesia dideklarasikan sebagai bahasa negara pada tanggal 18 Agustus 1945 karena pada saat itu Undang-Undang Dasar 1945  baru disahkan sebagai Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia. Dalam Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa Bahasa masyarakat Indonesia ialah bahasa Indonesia (Bab XV, Pasal 36).

Berdasarkan Keputusan Kongres Bahasa Indonesia II tahun 1954 di Medan, antara lain, menyatakan bahwa embrio bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Bahasa Indonesia bertumbuh dari bahasa Melayu yang sejak zaman dulu sudah dipergunakan sebagai bahasa perhubungan (lingua franca) bukan hanya di Kepulauan Nusantara, melainkan juga hampir semua wilayah kawasan Asia Tenggara.

Nama Nama Suku di Indonesia

tujuan wawasan nusantara
pixabay.com

Bangsa Indonesia begitu melimpah komposisi adat dan kesukuannya. Suku bangsa di indonesia antara lain; Suku Aceh, Sumatra Utara (Batak), Sumatra Barat (minang), Melayu Riau, Jambi, Sumatra Selatan (palembang), Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, DKI Jakarta (betawi), Jawa Barat (Sunda), Sunda Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat (Sumbawa), Nusa tenggara Timur, Dayak Kalimantan Barat , Dayak Kalimantan Tengah, Dayak Kalimantan Selatan, Dayak Kalimantan Timur, Minahasa Sulawesi Utara, Toraja BUgis Sulawesi Barat, Bugis Sulawesi Tengah, Bugis, Makassar, Mandar, Toraja sulawesi selatan, Gorontalo, Maluku Utara, Irian Papua Barat, Asmat Papua  hingga Kalimantan Utara (Kaltara).

Butir Butir Pancasila

butir butir pancasila
id.wikipedia.org

 

Leluhur  Nusantara ini hidup di berbagai ribuan pulau. Nenek moyang kita yang satu dengan  lainnya pernah terpisah-pisah dalam kelompok, yang akhirnya hal ini menimbulkan suku-suku yang memiliki budayanya masing-masing yang satu berbeda dengan yang lain, kesenian serta adat istiadat, kebiasaan, dan lain-lain. Meskipun perbedaan-perbedaan tersebut tidak terlalu mencolok tajam, segenap perbedaan budaya suku-suku yang ada akan memberikan bentuk pada kekayaan budaya bangsa.

Pijakan budaya Indonesia asli yang telah dinilai memiliki unsur-unsur budaya yang luhur, berupa antara lain sifat religius suatu kepercayaan terhadap dzat yang gaib, rasa peri kemanusiaan yang ikhlas tanpa membedakan sumber dan warna kulit, rasa persatuan dan kesatuan yang terbina sangat erat dalam bentuk kekeluargaan maupun sikap luwes dalam pergaulan melalui bentuk musyawarah dan kegotongroyongan yang tinggi dalam lingkup keluarga, masyarakat dan bentuk nagari, sikap ramah tamah, suka bekerja keras tanpa pamrih, serta rasa keadilan yang merata dalam lingkungannya. Semua hal yang tersebut di atas merupakan gambaran yang mencerminkan ciri-ciri khas kehidupan serta kepribadian bernilai luhur yang telah dimiliki oleh nenek moyang kita sejak zaman dahulu kala, dan situasi demikian merupakan salah satu prinsip awal sejarah nama Indonesia

Wawasan Kebangsaan

wawasan kebangsaan
pixabay.com

Berdasarkan Tap MPR no. I/MPR/2003, 36 butir pedoman pengamalan Pancasila telah diganti menjadi 45 butir butir Pancasila. Namun sayangnya tidak ada kebijakan pemerintah untuk memasukkanya ke dalam kurikulum pendidikan ataupun program doktrinasi lewat media.

Prinsip dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai cikal bakal bahasan sejarah nama Indonesia adalah Pancasila yang mengakomodir dan (harusnya) juga bersifat memaksa sebagai pandangan hidup semua orang yang mengaku Bangsa  Indonesia. Dan menjadi sifat dasar bagi semua rakyat Indonesia dalam bermasyarakat dengan mengamalkan butir butir Pancasila.

Dan berikut ini 45 butir butir Pancasila yang baru sesuai dengan Tap MPR no. I/MPR/2003.

Sila pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa

Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketakwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Manusia Indonesia percaya dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.

Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.

Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.

 

Sila kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.

Mengakui persamaan derajat, persamaan hak, dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.

Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.

Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.

Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.

Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.

Berani membela kebenaran dan keadilan.

Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.

Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.

 

Sila ketiga: Persatuan Indonesia

Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.

Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlukan.

Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.

Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia.

Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.

Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.

 

Sila keempat: Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaran / Perwakilan

Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama.

Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.

Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.

Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.

Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah.

Dengan iktikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah.

Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.

Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.

Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.

Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan pemusyawaratan.

Sila kelima: Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

 

Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.

Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.

Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.

Menghormati hak orang lain.

Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.

Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain.

Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah.

Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum.

Suka bekerja keras.

Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama.

Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.

 

Leave a Comment