pelajaran mengarang

Jejak Intelektual Seno Gumira Ajidarma

Sebagian orang sudah bisa menebak ke arah mana jalan hidup seorang anak Profesor. Keadaannya mungkin tidak jauh berbeda kalau kita melihat Seno Gumira Ajidarman yang sekarang didapuk sebagai Rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Namun siapa sangka, jejak intelektual penulis serba bisa ini begitu impresif.

Sekilas Pandang Seno Gumira Ajidarma

seno gumra ajidarma
profesi-unm.com

Sosok Seno Gumira Ajidarma terlahir dan bertumbuh kembang dari keluarga yang mapan, ia memilih hidup beda dengan menjelajah dunia tulis menulis. Sejumlah penghargaan sudah diterima Ayah dari Timur Angin ini diantaranya Khatulistiwa Literary Award untuk karyanya yang berjudul “Negeri Senja” dan “Kitab Omong Kosong”.

Lahir di Boston pada 19 Juni 1958. Seno, demikian ia berakrab, dilahirkan dalam keluarga berpendidikan tinggi. Ayahnya Prof. Dr. MSA Sastroamidjojo adalah guru besar Fakultas MIPA di Universitas Gadjah Mada, sedangkan Ibunda Poestika Kusuma Sujana mengabdi sebagai dokter spesialis penyakit dalam. Akan tetapi, Seno memiliki worldview yang jungkir balik dengan sang Ayah.

Ia tidak menyukai pelajaran eksakta, walaupun nilai untuk pelajaran-pelajaran itu ngga jelek-jelek amat. Seno beranggapan bila ilmu pasti itu tidak menyenangkan. Ia lebih suka bernalar ria mengawinkan imajinasi dengan realita hingga menjadi sebuah karya.

Seno Gumira Ajidarma dan Seni Sastra

seno gumira ajidarma timur angin
pixabay.com

Ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar, ia mengajak teman-temannya membolos. Akibat kelakuannya itu, ia mendapat teguran dari gurunya. Pemberontakannya semakin kian menggelitik kala ia mengenyam pendidikan di SMP. Ketika itu, ia memilih tidak mau pakai ikat pinggang, baju acakadut, yang lain berambut pendek, ia gondrong.

Tuntas di SMP, Seno Gumira Ajidarma menunaikan pengembaraan intelektual dengan menjejak dari satu tempat ke tempat lain demi mendapatkan pengalaman sesungguhnya. Seno terpengaruh cerita petualangan Old Shatterhand di rimba suku Apache buah karya pengarang dari Alemania, Karl May. Selama tiga bulan lamanya, ia mulai berkelana dari pulau Jawa sampai Sumatra dengan hanya berbekal surat jalan dari ketua RT Bulaksumur yang gelarnya profesor doktor.

Jer Basuki Mawa Beya (setiap kesuksesan pasti butuh biaya), demikian pula yang dialami seorang Seno Gumira Ajidarma. ketika itu Seno bertahan hidup dengan berperan sebagai buruh pabrik kerupuk di Medan. Suatu waktu, karena kehabisan uang, Seno Gumira Ajidarma meminta uang kepada ibunya.

Namun, tak jua uang diterimanya, Ibunya meminta Seno untuk pulang dengan mengirimkan tiket. Tak ada pilihan lain, Seno pun mengandaskan petualangannya dan kembali pulang ke pangkuan orangtua untuk kemudian meneruskan sekolahnya yang sempat ditinggal.

seno gumira ajidarma satu
yeaharip.com

Layaknya darah muda kebanyakan yang haus eksistensi dan pengakuan. Seno Gumira Ajidarma bergabung dan bertumbuh dengan komunitas. Seiring dengan kepribadiannya yang tidak terlalu gemar diatur, Seno lebih memilih bergumul dengan komunitas anak-anak jalanan daripada teman-teman borju di kawasan komplek perumahan dosen Bulaksumur (UGM), rumah orangtuanya.

Awal mula Seno dengan dunia sastra ketika ia tergabung dalam teater Alam pimpinan Azwar A.N. Seperti kebanyakan orang, yang namannya newbie pada awalnya pasti serba salah. Seno juga mengalami hal yang sama, ia tak mengerti tentang drama, lebih kurang dua tahun Seno berkarya di komunitas itu.

Geliat menulisnya juga rajin diasah, Seno Gumira Ajidarma pernah tertegun dengan puisi-puisi jail Remy Sylado yang pada waktu itu dimuat di majalah Aktuil. Hasilnya, Seno mencoba peruntungannya dengan mengirimkan puisi-puisinya. Puisinya yang pertama dimuat pada rubrik “Puisi Lugu” dan mendapatkan honor yang menggiurkan.

Awal Perjalanan Seno Gumira Ajidarma

pelajaran mengarang
whiteboardjournal.com

Sudah bukan rahasia umum kalau “outsourching” relatif tidak masuk dalam prioritas bagi sebagian mata yang melihat. Hal demikian juga dialami oleh Ayah dari Timur Angin ini, tidak sedikit orang memandang Seno hanya dengan sebelah mata.

Mereka meremehkannya sebagaimana pandangan pemain lama terhadap pendatang baru. Namun, anggapan itu tidak sedikitpun mengerdilkan hatinya untuk terus berkarya. Semakin banyak cibiran orang, menjadi pelecutnya menyingkirkan berbagai batu sandungan demi menghasilkan karya yang paripurna. Ia pun tertantang untuk mengirim puisinya ke majalah sastra Horison.

Karena bakat dan kemampuannya sudah makin terasah, puisinya pun melenggang mulus dan dimuat di majalah tersebut. Seno pun semakin percaya diri di usianya yang masih 17 tahun. Cerpennya yang pertama dimuat di surat kabar Berita Nasional dan esainya yang pertama dimuat di surat kabar Kedaulatan Rakyat.

Seno melepas masa lajangnya di usianya yang baru menginjak 19 tahun dengan mempersunting Ikke Susilowati. Untuk menghidupi keluarga barunya, ia pun memutar otak. Seno kemudian memilih untuk menjadi wartawan. Dan pada tahun itu juga Seno masuk Institut Kesenian Jakarta, jurusan Sinematografi. Di IKJ pulalah ia mulai banyak bersentuhan dengan kamera.

Pergerakan Sang Puisi Senja

seno gumira ajidarma sukab
dunisukab.com

Tidak berhenti sampai di situ, Pria yang sekarang menjabat sebagai Rektor IKJ ini kemudian menggagas beroperasinya “pabrik tulisan” yang menerbitkan buku-buku puisi dan menjadi wadah terselenggaranya acara-acara kebudayaan.

Gebrakan berikutnya dari Seno Gumira Ajidarma yaitu menerbitkan majalah kampus dengan nama Cikini dan majalah film yang bernama Sinema Indonesia. Setelah itu, ia juga menerbitkan mingguan Zaman, dan terakhir medio tahun 1985, ia ikut meluncurkan (kembali) majalah berita Jakarta-Jakarta.

seno gumira ajidarma bulaksumur
techno.okezone.com

Mungkin kamu beranggapan bila Seno Gumira Ajidarma dikenal sebagai sastrawan, pemaparan Seno sendiri sejatinya bermula dari keinginan menjadi seniman “biasa” yang bisa berbahagia  apa adanya. Mulanya yang ia lihat dari seorang seniman  lebih kepada gaya hidup yang serba santai dan tidak terikat aturan.

Nampak senafas dengan jiwa Seno bebas tapi bertanggungjawab. Apalagi yang dijadikan rujukan macam penyair kenamaan WS Rendra yang  nyantai, bisa bicara, nyentrik, gondrong dan itu semua  rupanya mencuri perhatian Seno. Hingga detik ini sudah belasan buku telah lahir dari tangannya. Karya-karyanya terdiri dari  kumpulan sajak, cerpen, kumpulan esai, novel, dan karya nonfiksi .

Selain bekerja di Pusat Dokumentasi Jakarta-Jakarta, Peraih gelar Doktor dari Universitas Indonesia ini mengisi waktu produktifnya dengan jalan-jalan, membaca, menulis, dan memotret. Tak hanya menulis puisi dan cerpen, ia pun menuangkan isi kepalanya dalam bentuk visual.

Berseteru dengan Orde Baru

seno gumira ajidarma rektor
sukabfiles.wordpress.com

Dikala rezim orde baru membungkam kebebasan berpendapat, dengan idealismenya Seno Gumira Ajidarma dengan lantang menerbitkan buku “Trilogi Insiden” yang mengangkat realita teraktual seputar Insiden Dili, yang genderangnya ditabukan media massa ketika pemerintahan Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988).

Karya-karyanya terus bersuara seperti: “Saksi Mata” (kumpulan cerpen), “Jazz, Parfum dan Insiden” (Novel) dan “Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara” (kumpulan esai). Ketiganya telah menjadi dokumen tentang bagaimana sastra tak bisa menghindar untuk pasang badan agar berbuat secara praktis dan konkret dalam ranah politik apalagi politik kekuasaan tersebut  menjadi semakin tidak manusiawi.

Bapak Rektor Seno Gumira Ajidarma

seno gumira ajidarma ikj
ikj.ac.id

Sebuah sejarah tercipta di Cikini lantaran  DR. Seno Gumira Ajidarma, M.Hum. Terpilih menjadi pucuk pimpinan  Institut Kesenian Jakarta. Seno Gumira Ajidarma merupakan Rektor pertama dari Fakultas Film dan Televisi. Beliau merupakan pengajar untuk penulisan kreatif dan kajian sinema di FFTV. Selain pengajar beliau adalah seorang Wartawan, Penulis, Fotografer dan Kritikus Film Indonesia.

Jejak Intelektualnya banyak diapresiasi, seperti komik Panji Tengkorak untuk disertasi S3-nya di Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia ini berhasil menyabet sejumlah penghargaan. Penghargaan di ajang sastra bergengsi, Khatulistiwa Literary Award, dua tahun berturut-turut berhasil diraihnya, yakni pada tahun 2004 dan 2005. Masing-masing penghargaan itu diberikan untuk karyanya yang berjudul “Negeri Senja” dan “Kitab Omong Kosong”
Tapi ingat ya, Seno Gumiro bandel waktu sekolah bisa jadi penulis terkenal dan sekrang malah jadi Rektor, lah kalau kamu coba-coba seperti dia mau jadi apa? Hehehe. Jadi, jangan terlalu banyak atraksi. Bill Gates apalagi, dia mah Drop Outnya dari Harvard. Mirip-mirip juga sama Mark. Mereka udah terseleksi dari sononya. Nikmati proses yang sudah tertera di hadapanmu, nikmati passionmu untuk berbuat lebih.

Leave a Comment